Powered By Blogger

Minggu, 04 Oktober 2020

Reportase Turnamen Mingguan Sparta, 4 Oktober 2020

 “If you hate a person, you hate something in him that is part of yourself. What isn't part of ourselves doesn't disturb us.” 

Hermann Hesse

Adakah orang yang Anda benci? Siapakah gerangan dia yang kamu benci? Apa yang menyebabkan Anda membencinya? bila ada segeralah singkirkan rasa benci tersebut, mengapa? Karena sesungguhnya sifat membenci orang lain adalah sifat yang sangat merugikan diri sendiri.

Berdasarkan situs Merriam Webster, "benci adalah permusuhan dan kebencian intens yang biasanya berasal dari rasa takut, marah, atau rasa terluka." Seringkali rasa benci tersebut berlanjut dengan munculnya hal-hal buruk kepada orang yang dibenci. Jika diperhatikan kembali, kebencian merupakan sesuatu yang normal dan manusiawi walaupun sebenarnya hal tersebut merupakan sikap negatif.

Dikutip dari akun youtube content creator Gita Savitri, dikatakan bahwa "perbedaan kebencian dengan sikap negatif lainnya dapat diidentifikasi dari tujuan emosionalnya." Kebencian memiliki tujuan emosional lebih kompleks dibandingkan dengan yang lainnya. Seperti misalnya rasa marah.

Rasa benci dan rasa marah memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda. Rasa marah mempunyai tujuan emosional untuk menyampaikan segala perasaan mengganjal di hati yang terkait dengan sikap buruk seseorang melalui verbal dengan cara mengkritik, sementara rasa benci lebih kepada perasaan tidak suka, permusuhan, dan antipati kepada orang lain. Biasanya rasa benci lebih sering dipendam, tetapi akibat yang ditimbulkan kedepannya bisa menjadi lebih fatal.

Ketika seseorang yang kita benci sudah melakukan hal-hal yang baik kepada kita, namun rasa benci yang ada tidak semerta-merta bisa hilang. Mengapa? Karena pada hakikatnya, rasa benci yang telah lama bersemayam di dalam diri kita mempengaruhi kita sehingga apapun yang dilakukan orang tersebut akan selalu salah dimata kita.

Adanya kebencian yang mendalam menyebabkan kita menginginkan agar hal-hal buruk terjadi kepada seseorang yang kita benci. Bisa jadi kita ingin melihat dia yang dibenci merasakan hancur, gagal, merusak reputasinya, mempermalukan dia dan bahkan yang lebih ekstrem adalah membunuhnya.

Dalam hidup, tak bisa dipungkiri bahwa kita akan bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran. Terkait dengan kebencian, tentu bukan satu atau dua orang yang menyimpan rasa tersebut. Hal ini menjadi menarik jika kita tidak suka dengan orang lain, kemudian bertemu dengan orang yang memiliki rasa benci yang sama kepada dia yang kita benci, maka akan terbentuk sebuah ikatan yang kuat dan biasanya akan muncul sebuah kerja sama.

Bahaya dari hal tersebut ialah munculnya bentuk mempengaruhi orang lain untuk membenci seseorang. Hal-hal yang berkaitan dengan hate atau kebencian itu tidak bisa dianggap sepele, sebab efek yang ditimbulkan dari rasa kebencian bisa bermacam-macam.

Berdasarkan piramida kebencian, ada lima level kebencian dan macam-macam aksi yang bisa dilakukan.

Contoh kasus yang saat ini sedang ramai diperbincangkan yaitu kasus Sulli (personil girl grup f(x) dari korea) meninggal dunia karena bunuh diri. Jika dilihat dari piramida kebencian, maka kasus Sulli termasuk pada tingkat "tindakan bias". Seperti yang kita ketahui tindakan bias adalah tindakan perundungan, penghindaran secara sosial, dan bentuk candaan yang meremehkan.


Kasus Sulli termasuk pada tindakan bias, karena Sulli sering mendapatkan perlakuan candaan yang meremehkan dirinya. Dari berita-berita yang penulis ketahui bahwa Sulli mengalami depresi sebab beban yang ia tanggung sangat berat.

Sulli menjadi korban cyber bullying atau candaan meremehkan yang menyebabkan kesehatan mentalnya terganggu. Jika membahas permasalahan cyber bullying atau hate speech di media sosial, hal tersebut merupakan salah satu bentuk dari penyampaian kebencian, sehingga si korban mengalami gangguan mental dan nekat melakukan aksi bunuh diri.

Dari kasus diatas, timbul pertayaaan mengapa orang membenci orang lain hingga melakukan bullying di media sosial dan berakibat fatal. Dikutip dari akun youtube konten creator Gita Savitri, berikut beberapa faktornya.

  1. Korban sudah sering mengalami perlakuan yang tidak baik, korban merasa tidak berdaya, dan dipermalukan atau diacuhkan.
  2. Hal yang paling umum adalah karena kita membenci orang yang berbeda dari kita. Perbedaan itulah yang menyebabkan munculnya rasa takut, rasa tidak aman dan akhirnya muncul prasangka dan sikap sentiment terhadap orang lain.
  3. Tidak menerima diri sendiri. Ketika kita melihat seseorang membenci tanpa alasan, biasanya dia adalah orang yang penuh kecemasan dalam dirinya. Adanya rasa cemas tersebut menyebabkan pelaku kebencian menunjukkan amarahnya ke orang lain. Di zaman media sosial sekarang ini sangat mudah untuk menjadikan orang lain sebagai kambing hitam dari masalah personal. 
  4. Kehidupan seseorang yang terlihat sempurna di media sosial membuat pelaku berpikir bahwa korban adalah kambing hitam yang tepat untuk masalah personalnya. Jadi, membenci seseorang dijadikan sebagai mekanisme lain atas ketidaksempurnaan diri.
  5. Suatu kelompok membenci kelompok lain karena mereka merasa identitas mereka terancam. Baik dari segi agama atau hal lain yang menurut mereka berseberangan atau berbeda dengan mereka.

Dari kasus tersebut juga muncul pertanyaan, bagaimana cara agar kita bisa menetralisir sedikit rasa benci terhadap seseorang atau suatu kelompok dan bagaimana caranya agar kita dapat berpikir rasional?

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut;

  1. Belajar mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri dapat menjadikan kita nyaman dengan diri kita sendiri, nyaman dengan keadaan kita bahkan bisa membuat kita lebih mudah ber-husnudzon kepada orang lain.
  2. Mencoba mengenal orang lain lebih dekat. Mengenali orang lain lebih dekat dapat menciptakan rasa saling menghargai dan menghormati satu sama lain,
  3. Hal yang paling penting adalah mencoba untuk berpikir lebih jernih, bertanya pada diri sendiri mengapa kita bisa tidak menyukai orang lain? mengapa kita bisa membenci orang lain? Sebesar apa kadar benci kita ke orang tersebut? Apa yang telah ia perbuat ke kita? dan apa yang harus kita lakukan untuk merespon rasa benci yang kita punya?

Mencoba bertanya kepada diri sendiri dan mencoba berpikir jernih, menjadikan kita lebih mengetahui apa yang terjadi dengan emosi kita, dengan pemikiran kita, dengan hati kita dan hal tersebut dapat membuat kita menjadi lebih tenang dan paling tidak kita bisa sedikit lebih rasional.

Kembali ke reportase. Turnamen mingguan Sparta edisi minggu ke-30 diikuti oleh 18 orang Spartan. sebetulnya yang sudah konformasi ikutan ada 16 orang, tapi ada peserta dadakan sebagai peserta percobaan yaitu Filbert, yang dipasangkan dengan Adi Putra (karena proses drawing sudah selesai). 2 2 peserta yang baru bergabung di turnamen mingguan Sparta, yaitu Fauzan dan Hilmi, secara kebetulan lewat undian mereka berpartner. Sebagai mahasiswa FPOK UPI permainan mereka sudah pasti bagus. Skill, fisik, tekhnik dan mental mereka cukup mumpuni. Sehingga tidak mengejutkan kalo mereka keluar sebagai juara minggu ini.

Di babak penyisihan Fauzan dan Hilmi hanya menempati posisi runner up, kalah tipis dari kompetitornya Agung K dan Hadi M, yang menjadi juara grup.  Di babak semifinal kedua pasangan ini bertemu lagi. Dan pasangan Agung K dan Hadi M kali ini harus bertekuk lutut, kalah dari Fauzan dan Hilmi.

Di babak final Fauzan dan Hilmi bertemu dengan juara grup A, yaitu Anton dan Roganda. Anton dan Roganda yang bermain cukup apik di babak penyisihan, hinggal semi final (bahkan menang 2 kali atas kompetitornya Andre dan Ari A, di babak penyisihan dan semifinal). Saat bertemu sang juara, mereka seperti kehilangan daya magisnya. Mereka bermain monoton dan tidak berkembang. Dari kacamata admin terlihat mereka bermain seperti tertekan dan hilang fokus. Bahkan poin mereka sempat tertinggal jauh hingga tertinggal 12 poin. Akhirnya Fauzan dan Hilmi mentahbiskan kemenangan mereka di babak puncak dengan 42-35 atas Anton dan Roganda.

Inilah nama-nama yang keluar sebagai juara minggu ini;

Juara 1 Fauzan dan Hilmi

Juara 2 Anton dan Roganda

Juara 3 Andre dan Ari A / Agung K dan Hadi M

Dan dibawah ini adalah result dari turnamen ini kali ini, disertai dengan update ranking dan akumulasi perolehan medali Sparta;

Road to final

Bagan turnamen

Update ranking Sparta

Akumulasi perolehan medali Sparta

Hari ini Minggu, tanggal 4 Oktober  2020, bertepatan pula dengan digelarnya Final Gentleman Of Indonesia Provinsi Jawa Barat. Acara ini disiarkan secara langsung di TVRI Jabar-Banten.

Salah seorang finalisnya adalah Wardana, yang merupakan Spartan juga. Secara membanggakan dia meraih gelar 1st runner up di ajang ini. Congratulation Wardana. We proud of you!!

Wardana, 1st Runner Up Gentleman Of Indonesia Provinsi Jawa barat

Sekian reportase kita kali ini. Comebacknya Nura Audy dan Dena, di turnamen mingguan Sparta, semoga makin mempererat tali silaturahmi kita dan menambah seru jalannya turnamen mingguan Sparta di minggu-minggu yang akan datang. Salam olah raga dan sampai jumpa!!!



Minggu, 27 September 2020

Reportase Turnamen Mingguan Sparta, 27 September 2020



 "Knowledge will give you power, but character respect."

Bruce Lee

Banyak orang yakin uang dan harta benda bisa mendatangkan kebahagiaan. Katanya sih gitu. Tapi sejumlah penelitian menyatakan kalo yang sebenernya diinginkan orang adalah disegani dan disukai.Bener juga sih. Buat apa punya banyak uang tapi dicela dan dibenci sama orang-orang? Hehehe.

Oke, balik lagi ke penelitian tadi. Ketika disegani dan disukai, seseorang jadi lebih bahagia. Gak cuma itu, perasaan disegani membantu menciptakan kedekatan dengan orang-orang di sekitar kamu.

Tapi gimana tuh caranya supaya lebih disegani?

Ada nggak nih perilaku-perilaku yang bisa kita coba?


Tokoh-tokoh besar yang mendapat respek punya kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa kamu praktekkan segera. Ini dia!

1. Ingin lebih disegani? Baca buku.

Nggak semua orang suka baca buku. Sejumlah orang yang saya temui mengaku pusing bila melihat tulisan yang terlalu banyak. Well, itulah yang membedakan antara orang penuh respek dengan orang biasa.

Warren Buffett barangkali adalah salah satu investor dan dermawan paling disegani di jaman ini. Kalo kamu googling tentang kebiasaan-kebiasaan Warren Buffett yang bisa kamu tiru, jumlahnya berlimpah.

Tapi salah satu kebiasaan Pak Buffett yang paling mencolok adalah membaca. Bahkan dilaporkan bahwa Buffett menghabiskan hampir 80% buat membaca. Wow!


"Not all readers are leaders, but all leaders are readers".

-Harry S. Truman


Contoh orang-orang disegani yang terkenal gila membaca? Steve Jobs dan Bill Gates.

Membaca bisa membantu kamu ngembangin sejumlah skill, seperti:

Pengembangan inteligensi verbal

Pemahaman sosial yang meningkat

Meningkatkan inteligensi emosi

Skill-skill ini adalah skill para pemimpin. Dan yang pasti, membuat kamu lebih disegani dong.

Jadi kalo kamu mau disegani, perbanyaklah membaca.


2. Orang yang disegani nggak cuma jago di bidangnya…mereka juga ramah.

Banyak orang ngira kalo kamu cukup pinter, cukup berbakat, dan cukup berkompeten dalam pekerjaan kamu,

secara otomatis kamu disegani oleh orang-orang di sekitar.

Iya gak sih?

Ngomong-ngomong, berdasarkan psikolog Harvard Amy Cuddy, kemampuan adalah syarat kedua untuk jadi disegani. Syarat paling penting, ternyata… sikap ramah.

Menurut Mbak Cuddy, kalo kita kenalan sama orang baru, otak kita langsung mikir gini: “Aku bisa percaya gak ya sama orang ini?” dan “Apa aku perlu menghormati dia?” Kepercayaan datang dari sikap yang ramah.

Sementara respek datang dari kemampuan dan kecakapan.

Tapi, berdasarkan penelitiannya, kalo kamu mau disegani, harus dipercaya dulu.

Artinya, kamu perlu membuat orang percaya sama kamu sebelum mereka menghormati kamu.

Jika kamu mau disegani, ya pertama kamu harus jadi ramah dong sama orang. Tempatkan diri di posisi orang lain. Kalo ada orang cerita, dengerin. Tunjukin kalo kamu peduli. Dengan gitu, orang akan percaya kalo kamu layak disegani.


3. Orang yang disegani tau kapan harus menolak.

Orang yang tegas lebih disegani dibandingkan sama yang klemar klemer.

Ketika seseorang bersikap tegas, dia memperlihatkan aura seorang yang punya kemampuan dan berkuasa. Ini bagus untuk menciptakan rasa percaya. Menjadi tegas bisa dilihat dari banyak contoh; tapiii kamu bisa mengawalinya dari bilang “nggak”.

Heh?

Ya, kamu harus tau kapan kamu harus menolak permintaan orang. Kamu harus tau kapan harus TIDAK memaklumi orang lain.

lagian kalo terus-terusan ngalah dan menerima, kamu jadi dianggap remeh kan?

Mampu mengeluarkan pikiranmu dan mempertahankan pendapat itu penting. Ini untuk meningkatkan respek dari orang-orang di sekitarmu.


4. Orang yang disegani, menghormati orang lain.

Kalo kamu mau dihormati, ya hormati orang lain dulu.

Semua orang tahu hal ini, tapi gak semua bisa melakukan. Tapi di sini kita gak cuma menghormati orang lain… kita juga katakan sejelas-jelasnya kalo kita menghormati orang lain.

Berdasarkan prinsip-prinsip  spontaneous trait transference, orang lain cenderung menilai kita dengan nilai-nilai yang kita katakan ke orang lain.

Contoh: kalo kita ngatain yang jelek-jelek tentang orang lain, si pendengar juga menilai kalo kita jelek.

Jadinya kalo kita senang memuji orang lain, senang menghargai karya orang lain… Mereka pun akan menganggap kamu orang yang ramah dan menyenangkan.

Jadilah orang yang gampang memuji dan menghargai. Pujilah hal baik di diri orang lain — jadi orang lain menilai kamu baik. Jadi lebih dihormati deh.


5. Orang yang disegani punya rasa humor.

Tertawa memberi pengaruh positif pada kesehatan. Kamu juga pasti tau dong kalo humor bisa jadi cara yang sip untuk mempererat hubungan dan mengendurkan situasi tegang.

Tapi ketika ingin jadi disegani, seseorang seringnya berusaha bersikap keras dan kaku. Ketika kita ingin mendapatkan respek dari orang lain, kadang tanpa sadar kita jadi kaku.

Padahal, kita bisa lo menggunakan humor untuk mengurangi perbedaan sosial antara kita dengan orang lain. Humor yang santai dan ringan bisa membantu kamu terlihat lebih manusiawi, dan lebih suportif.

Tapi inget: ngejokes boleh tapi jangan keseringan. Terlalu sering melucu malah kamu dianggap remeh dan jadinya gak disegani deh.

Nah!

Itu tadi 5 hal yang harus kamu lakukan supaya kamu disegani.

Kamu gak bisa meminta atau mengharapkan supaya kamu disegani sama orang.

Kamu sendiri yang harus membentuk sikap itu.

Satu hal lagi yang tak kalah penting. Jangan berharap orang akan selalu MAKLUM dan MEMAAFKAN atas  sikap kamu yang egois, nyeleneh, menyebalkan atau menjengkelkan. Karena ada saatnya orang lain itu akan MUAK dengan perilaku kamu yang kaya gitu. 

What you give is what you get!.


Kembali ke reportase. Turnamen mingguan kali ini diikuti oleh 16 orang Spartan. Di turnamen mingguan Sparta edisi minggu ke-29, tamu dari Bekasi kembali menunjukkan taringnya dengan menyabet gelar juara. Setelah minggu lalu Franky yang berada di podium juara, kali ini giliran Reza R yang berpasangan dengan Hadi M, yang keluar sebagai kampiun minggu ini.

Di babak penyisihan  Reza R dan Hadi secara meyakinkan menggulingkan lawan-lawannya dengan kemenangan penuh. Bahkan saat mereka kembali bertemu lagi di Semifinal dengan kompetitornya Fatoni dan Franky. Fatoni dan Franky yang di babak penyisihan harus menelan pil pahit kekalahan dengan score yang bikin ga bisa bobok nyenyak. 41-42. Tidak mampu membalaskan kekalahan mereka.

Babak final mempertemukan Reza R dan Hadi M dengan pasangan Ari Syam dan Roganda. Ari Syam yang baru datang lagi ke Sparta (karena kesibukan aktivitas bekerja di Jakarta), tak mengalami kesulitan berarti bertandem dengan Roganda.

Reza R dan Hadi M terlihat sedikit kedodoran di awal pertandingan partai puncak. Bahkan hingga paruh set ke-dua, mereka masih selalu tertinggal 3-4 poin.  Entah faktor fisik atau hilang fokus (karena hujan turun dengan derasnya, hingga suasana di dalam GOR sangat berisik), akhirnya Ari Syam dan Roganda poinnya tertikung tanpa bisa menyusul lagi. Dan pertandingan babak final berakhir dengan 42-40.

Inilah nama-nama yang menjadi juara kita minggu ini;

Juara I Reza R dan Hadi M

Juara 2 Ari Syam dan Roganda

Juara 3 Fatoni dan Franky / Iyan dan Olsen


Dan dibawah ini adalah ikhtisar turnamen mingguan Sparta edisi minggu ke-29;

Road to final

Bagan turnamen

Update ranking Sparta

Akumulasi perolehan medali Sparta

Sekian reportase kita kali ini. Keep calm and smash hard!!



.





Minggu, 20 September 2020

Reportase Turnamen Mingguan Sparta, 20 September 2020

 “Look outside and you will see yourself. Look inside and you will find yourself.”

 Drew Gerald

Pada Jum'at Pagi hari, Empat orang santri sedang belajar adab-adab sholat jum'at, dan mereka mengetahui kalau sedang mendengarkan khutbah maka mereka harus diam tidak boleh bicara, lalu siangnya mereka masuk masjid untuk sholat Jum'at, yang sebelumnya tentu harus mendengarkan khutbah, pada saat awal khotib berkhutbah semuanya diam, berlangsung dengan khusyuk. Namun, tidak beberapa lama setelah itu, ada salah satu jamaah sibuk memainkan HP nya, dan ketika Hp orang itu berbunyi karena ada yang menelpon, seorang jamaah dari 4 orang itu tidak bisa menahan diri dan berseru kepada orang itu; ”Tolong matikan Hp itu!”

Santri kedua heran mendengar suara temannya. ”Kita tidak boleh berbicara,” komentarnya. Melihat hal ini Santri ketiga merasa jengkel, ”Kalian bodoh. Mengapa berbicara?” ia bertanya. ”Sayalah satu-satunya orang dari kalian berempat yang tidak berbicara,” Santri keempat menyimpulkan.


Apakah yang menarik dari cerita di atas? Ternyata melihat ke luar itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan melihat ke dalam. Ini tentu saja tidak mengherankan, melihat ke luar hanya membutuhkan mata lahir, sedangkan melihat ke dalam membutuhkan mata batin. Melihat ke luar dapat kita lakukan di tengah kesibukan, sementara melihat ke dalam hanya bisa kita lakukan dalam keheningan, manakala kita melakukan dialog yang tak terputus dengan diri kita sendiri.

Yang menarik, karena kita hanya dapat fokus pada satu hal di satu waktu, maka ketika fokus ke luar, kita akan lupa untuk melihat ke dalam. Lantas, apa yang membuat kita sulit untuk melihat ke dalam?

Ada tiga alasan yang kuat, mengapa melihat ke dalam diri sendiri itu sulit. Pertama, karena kita sering merasa sudah benar. Kita tidak sadar bahwa kebenaran hanyalah posisi kita pada saat ini, dan sama sekali tidak ada jaminan bahwa kita tetap berada di posisi ini di masa mendatang. Kita lupa bahwa posisi kita bisa berubah seperti bandul yang berayun.

Selain itu, kita kerap menganggap diri kita berada di zona aman. Kita merasa diri kita baik dan bijak. Kita merasa mempunyai kedudukan yang menjamin kita berbuat baik seperti penegak hukum, aktivis antikorupsi, ahli agama, ilmuwan dan sebagainya. Semua posisi dan label ini menciptakan perasaan aman yang pada gilirannya menghasilkan sikap kurang hati-hati, lengah dan longgar. Tanpa disadari kita mengendurkan standar kita sendiri. Inilah yang membuat banyak penegak hukum melakukan aktivitas yang melanggar hukum, aktivis antikorupsi malah melakukan tindakan korupsi, ahli agama melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan agama yang diyakininya.

Kedua, kita lebih mudah melihat ke luar karena kita senang menyalahkan orang lain. Kita acap kali merasa bangga bila kita dapat menunjukkan kesalahan orang lain. Seolah-olah dengan menunjukkan kesalahan orang lain itu kita menjadi lebih baik dan lebih besar. Secara diam-diam dan tanpa disadari, kita masih memiliki penyakit ini dalam diri kita. Kita ingin lebih dibandingkan dengan orang lain. Kita membangun ego kita dengan cara seperti itu.

Ada sebuah cerita inspiratif mengenai tiga orang anak yang dibawa penduduk kampung ke pengadilan dengan tuduhan mencuri buah semangka. Ketiga anak itu sangat ketakutan karena berpikir akan menerima hukuman yang berat.

Ketika sampai di hadapan hakim, hakim yang dikenal sebagai orang yang sangat keras sekaligus bijaksana itu mengatakan, “Kalau di sini ada orang yang ketika masih anak-anak belum pernah mencuri buah semangka, silakan tunjuk jari.” Ternyata tak seorang pun termasuk hakim yang mengangkat jari telunjuknya. Maka, hakim pun langsung berkata, “Perkara ditolak.”

Jadi, sebelum bicara apa-apa, lihatlah diri Anda lebih dulu. Walaupun melihat diri sendiri memang amatlah sulit. Analoginya seperti melihat telinga Anda sendiri. Telinga itu berada sangat dekat dengan diri kita, tapi bisakah kita melihatnya? Tidak bisa, Anda membutuhkan alat, yakni cermin.

Ketiga, kita sulit melihat ke dalam diri karena kita sering merasa bahwa masalah berada di luar, bukan di dalam. Padahal, bukankah semua masalah yang ada di luar itu sebenarnya bersumber dari masalah yang ada di dalam, seperti halnya orang lebih suka mengarahkan telunjuknya ke luar tetapi lupa untuk bercermin. Bukankah semua kejahatan, permusuhan, dan peperangan bersumber pada sesuatu yang ada di dalam – dan bukan di luar – diri kita?

Karena merasa bahwa masalah ada di luar bukannya di dalam, maka perilaku kita seperti perilaku orang yang membaca buku psikologi dan bukan buku kesehatan. Ketika membaca buku psikologi kita akan cenderung menganalisis perilaku orang lain yang ada di sekitar kita. Kita mengatakan, “Ya, saya tahu, rekan kerja saya memang seperti ini, begitu pula dengan pasangan hidup saya.” Ini tentu saja berbeda dari perilaku ketika membaca buku kesehatan. Bayangkan kalau Anda membaca tulisan mengenai gejala diabetes atau jantung koroner. Siapakah yang akan langsung Anda pikirkan? Tentu saja, kita akan melihat ke dalam diri kita sendiri.

Seorang bijak pernah mengatakan, “Orang yang tahu mengenai alam semesta tetapi tidak tahu apa-apa mengenai dirinya berarti belum tahu apa-apa.” Karena itu tepat sekali Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya yang terkenal mengatakan, ”Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat...” Dalam lagu yang sama ia juga berpesan, ”Bercermin dan banyaklah bercermin. Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini. Berusahalah agar Dia tersenyum...”

Pada saat mata dan Panca indra kita terjaga, maka Perhatian Otak atau Jiwa kita berada pada luar diri kita, sehingga membuat Jiwa kita terperangkap pada panca indera, terkungkung oleh ke-diri-an. Berada pada Kesadaran inderawi, sehingga hanya menyadari lingkungannya hanya sebatas kesadaran yg bersifat fisik. Orang yg seperti ini lebih tertarik dan menyukai kehidupan dunia daripada akhirat.

Kembali ke reportase. Turnamen mingguan Sparta edisi minggu ke-28 diikuti oleh 16 orang Spartan plus 5 orang Spartan yang hanya mabar. Minggu ini kita kedatangan 3 orang tamu dari Bekasi, 2 ikutan turnamen dan satu orang hanya jadi penonton. Keikutsertaan Franky S dan Reza R di turnamen kali ini, turut mewarnai jalannya turnamen. Skill Franky yang termasuk diatas rata-rata Spartan, berkolaborasi permainan apik Ari A, jadilah mereka sebagai kampiun minggu ini. Sebetulnya dari awal juga sudah tertebak kalau mereka yang akan keluar sebagai juara minggu ini. Perjalanan mereka sangat mulus mulai dari babak penyisihan hingga final tanpa menderita kekalahan satu kali pun. Di babak final mereka mengalahkan pasangan Fatoni dan Rama dengan score 42-32.

Fatoni dan Rama yang awalnya bermain kurang maksimal di awal babak penyisihan, sanggup menebus kekalahan mereka dari pasangan Adi Putra dan Reza R, dengan memetik 2 kemenangan di 2 partai penyisihan berikutnya. Penentuan juara dan runner up di grup A, harus diselesaikan dengan drama penghitungan selisih poin. Fatoni dan Rama berhasil membalas kekalahan mereka dengan mendepak Adi Putra dan Reza R di babak semifinal.

Inilah nama-nama yang menjadi juara minggu ini;

Juara 1 Franky S dan Ari A

Juara 2 Fatoni dan Rama

Juara 3 Adi Putra dan Reza R / Iyan dan Andre

Dan dibawah ini adalah result dari turnamen mingguan Sparta tanggal 20 Sepetember 2020, disertai dengan update ranking dan Akumulasi perolehan medali Sparta;

Road to final

Bagan turnamen
Update ranking Sparta


Akumulasi perolehan medali Sparta

Sekian reportase kita kali ini. Semoga kita menjadi insan yang bisa introspeksi atas kesalahan-kesalahan yang telah dibuat dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Tetap semangat dan Salam olahraga!!!

Minggu, 13 September 2020

Reportase Turnamen Mingguan Sparta, 13 September 2020

 “Respect is a two-way street, if you want it you have to give it.”

R.G. Risch

First thing first, mengapa kita harus menghargai orang lain? We may come with a thousand different reasons for why we have to pay enough respect for others, Sobat – entah alasan sebagai makhluk sosial, kehidupan bermasyarakat, dan lain sebagainya. Namun satu hal yang pasti, sikap kita pada orang lain menunjukkan siapa kita sesungguhnya.


Kita dapat dengan mudah menanggapi sikap menyebalkan orang lain dengan perilaku yang sama menyebalkannya. Tapi bukankah dengan demikian berarti kita sama-sama menyebalkannya dengan orang tersebut? Tak ingin begitu bukan? Jadi, bagaimana sebenarnya cara-cara sederhana yang dapat kita terapkan dalam menghargai orang lain?

1. Tidak Mengabaikan Sopan Santun

Selama berabad-abad budaya kita mengajarkan sopan santun. Nilai sopan santun boleh jadi berbeda antar daerah, tapi pada dasarnya sikap sopan dan santun yang diajarkan bertujuan agar kita mampu menghargai orang lain. Contoh sederhananya adalah dengan tidak melupakan kata maaf, tolong, dan terima kasih.

Mengucap maaf tak berarti kita berada pada posisi yang lebih rendah atau menunggu sampai kita benar-benar melakukan kesalahan yang fatal. Mengucap tolong juga baik diucapkan para setiap orang, siapapun dia, yang membantu kita. Dan ucapan terima kasih merupakan cara kita menghargai sekecil apapun kontribusi yang diberikan oleh orang lain.

Selain bahasa verbal, sopan santun juga tampak pada sikap badan atau bahasa tubuh kita. Again, our native culture is very subjective in such matter. Secara umum dalam budaya ketimuran, misalnya, menunjuk-nunjuk dengan jari pada orang yang berusia lebih tua dianggap tidak sopan.

Bagaimana bila kita menghadapi orang yang bersikap tidak sopan? Haruskah kita tetap bersikap sopan? Tentu saja, iya. As it's mentioned earlier, the way we carry ourselves shows who we are – more than anything else. Jadi tetap saja tak ada ruginya bersikap sopan bagaimanapun reaksi orang yang tengah kita hadapi.

2. Terima Perbedaan pada Setiap Orang

Beda kepala, beda isi – pernah mendengarnya, kan? Adalah hal yang wajar bila masing-masing kita memiliki ide dan pendapat yang berbeda. Dalam banyak hal, yang semestinya dapat kita lakukan adalah menerima bahwa semua orang tak harus memiliki pendapat yang sama.

Perbedaan pula yang menuntun kita untuk tidak mengecilkan sesuatu. Misalnya, menganggap belajar menggambar tidak lebih penting dari belajar Matematika. Padahal, bagi orang lain mungkin memang passion-nya berada pada bidang seni dan ia dapat berbagi manfaat dengan orang lain pada bidang tersebut.

If it doesn't mean anything to you, something may mean the whole world for someone else. Therefore, it's worth every effort to always respect others' feelings and thoughts. (Jika itu tidak berarti apa-apa bagi Anda, sesuatu itu mungkin sangat berarti bagi orang lain. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk selalu menghargai perasaan dan pikiran orang lain).

3. Mau Menyimak dan Menjadi Pendengar

Berapa banyak teman yang sering menceritakan masalahnya pada kamu? Bila jumlahnya cukup banyak, besar kemungkinan kamu adalah pendengar yang baik.

Persoalan yang lebih serius memang membutuhkan bantuan profesional, misalnya melalui konseling. Akan tetapi, biasanya yang dibutuhkan teman kita hanya seseorang yang mau mendengar curahan perasaannya.

Bukan hanya teman yang sedang galau yang butuh disimak. Pada dasarnya, hampir setiap orang yang mengutarakan sesuatu berharap untuk disimak, didengarkan dengan baik. Disisi lain, sikap kita yang mau diam menyimak merupakan wujud dari respek atau penghargaan kita pada orang lain.

Bukan hanya di kelas saat menyimak guru atau dosen, sikap diam dan mau mendengarkan sebenarnya lebih dibutuhkan dalam berinteraksi dengan orang lain – khususnya mereka yang berusia lebih tua dari kita. Bila belum terbiasa, memang dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk tidak memotong seseorang yang sedang berbicara – tapi itu layak diusahakan.

4. Menyadari Batasan

Manusia memang makhluk sosial, tapi kita juga memiliki ruang lingkup pribadi. Dalam ranah pribadi, setiap orang memiliki hak penuh atas dirinya sendiri. Batasan tersebut memberi panduan sejauh mana jangkauan ucapan, sikap, hingga tindakan kita.

Misalnya, ketika ada teman yang menceritakan masalah pribadinya, yang bisa kita lakukan hanya menyimak dan menyampaikan pendapat ketika diminta. Diterima atau tidaknya pendapat kita, apapun keputusan dan tindakan yang diambilnya, sepenuhnya berada dalam ranah pribadi teman tersebut.

Dengan kita menahan diri dari berkomentar tanpa diminta, memaksakan pendapat, hingga membuat seseorang melakukan sesuatu yang tak diinginkannya berarti kita mampu menghargai orang lain. Respek pada orang lain inilah yang turut memandu dan mengarahkan tindak tanduk dan tingkah laku kita.

Telah disebutkan diawal bahwa penghargaan, respek pada orang lain sebenarnya lebih menunjukkan siapa kita. Jadi, ketika tingkah laku kita baik pada orang lain, itu karena kita yang selalu berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi. Siapkah kita melakukannya, guys?

Kembali ke reportase. Turnamen minggu ini dihadiri oleh 15 orang Spartan. Sebenarnya ada 16 orang, tapi Iwan tidak mau masuk drawing karena ada keperluan.

Finalis kali ini berasal dari grup yang sama, yaitu grup A. Hadi M dan Roganda berhasil menyabet gelar juara minggu ini. Dibabak penyisihan mereka harus puas berada di posisi runner up grup. Mereka harus menelan pil pahit kekalahan dari Anton dan Olsen di babak penyisihan. Namun di babak final Hadi M dan Roganda berhasil membalas kekalahan mereka di babak penyisihan dari pasangan Anton dan Olsen, dengan score telak 42-27.

Anton dan Olsen yang bermain sangat apik di babak penyisihan hingga semifinal. Di babak final seperti kehilangan daya magisnya. Mereka bermain antiklimaks. Permainan rally-rally panjang tetap tersaji dengan apik, namun itu tak cukup untuk menjadi modal menghadapi permainan ulet dan pertahanan rapat dari  Hadi M dan Roganda.

Jujur, menurut admin pertarungan semifinal antara Hadi M dan Roganda melawan Nura Audy dan Alex jauh lebih menarik dan mendebarkan. Namun faktor keberuntungan rupanya ebih berpihak ke Hadi M dan Roganda. Setelah sebelumnya tertinggal dan hampir kalah di poin 37-41, Namun secara perlahan namun pasti mereka menambah poin dan mengunci poin 41 Nura audy dan Alex, lalu menuntaskan permainan dengan 42-41.

Inilah nama-nama juara minggu ini

Juara 1 Hadi M dan Roganda

Juara 2 Anton dan Olsen

Juara 3 Nura Audy dan Alex / Rama dan Romi

Dan dibawah ini adalah result selengkapnyan turnamen mingguan Sparta, edisi minggu ke-27;

Road to final

Bagan turnamen

Update ranking Sparta

Akumulasi perolehan medali Sparta

Sekian reportase kita kali ini. Semoga kita selalu bisa saling menghargai. Bukan sabar namanya jika masih ada batasnya dan bukan ikhlas namanya jika masih dibicarakan, apalagi diumbar di medsos.  Let's respect each other. Sampai jumpa...


Minggu, 06 September 2020

Reportase Turnamen Mingguan Sparta, 6 September 2020

 “Do something today that your future self will thank you for.”

Sean Patrick Flanery

Hidup memang hanya satu kali, tapi bukan berarti kamu boleh hanya memikirkan saat ini saja. Hidupmu di masa depan juga bisa dipengaruhi oleh apa yang kamu lakukan sekarang. Banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang barangkali kamu abaikan sekarang, tapi sebenarnya sangat berpengaruh untuk masa depanmu kelak.

Karena masa depan yang secerah bintang tidak datang begitu saja, kamu harus mulai menyiapkannya dari sekarang. Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dirimu akan berterima kasih karena sekarang kamu melakukan hal-hal ini.


1. Orang sukses selalu bangun pagi, tak peduli weekdays ataupun weekend. Yuk ubah kebiasaanmu bangun siang!

Kalau kamu ingin menjadi orang sukses, jauh-jauhlah dari kebiasaan bangun siang, meski di akhir pekan sekalipun. Ada yang bilang bahwa apa yang kamu lakukan di pagi hari akan berpengaruh pada pekerjaanmu sampai sore nanti. Tetapi yang pasti, dengan bangun lebih pagi, kamu punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan pekerjaanmu. Kamu juga punya waktu lebih untuk melakukan aktivitas-aktivitas refleksi sebelum berkutat dengan pekerjaan seharian nanti.

Bangun lebih pagi juga mempengaruhi mood-mu lho, karena kamu tidak harus terburu-buru bersiap-siap. Santai, karena waktumu masih cukup luang.

2. Kamu malas olahraga? Sekarang sih tidak terasa apa-apa, tapi sepuluh tahun dari sekarang kamu akan menyesalinya

Kamu pasti tahu bahwa penyebab dari penyakit-penyakit berbahaya di usia tua seperti jantung, stroke, hipertensi, diabetes, dan obesitas, dipengaruhi oleh pola hidup yang buruk. Mulai dari makanan yang tidak sehat sampai malas olahraga sejak masih muda. Sekarang mungkin kamu belum merasakan masalahnya kalau kamu malas olahraga. Kamu merasa sehat-sehat saja, dan tubuhmu juga tetap ramping.

Tapi sepuluh tahun dari sekarang, kamu akan sangat berterima kasih pada dirimu saat ini, bila kamu mulai menghilangkan kebiasaan malas olahraga itu. Tidak perlu berat-berat kok. Cukup joging ringan minimal seminggu 3x sudah cukup mengurangi risiko-risiko seram di masa depan.

3. Mulai sekarang kurangi kebiasaanmu bergadang. Itu ‘kan yang membuatmu sulit bangun pagi dan kurang produktif di siang hari?

Begadang adalah penyakit sekaligus hobi anak muda kita. Mulai dari mahasiswa yang beralasan mengerjakan tugas, sampai pekerja yang beralasan melembur pekerjaan. Tapi ada juga sih yang begadang untuk sekadar nonton film. Akibatnya, esok hari menjadi kurang produktif karena waktu istirahat yang kurang. Belum lagi kalau ingat efek-efek negatif begadang untuk kesehatan.

Mulai sekarang biasakan untuk mendisiplinkan dirimu sendiri. Tidur tepat waktu akan membuatmu mudah bangun tepat waktu juga. Sehingga hidupmu lebih teratur dan produktivitasmu bisa meningkat.

4. Mumpung masih muda, biasakan baca buku minimal 1 buku per bulan. Selain menambah pengetahuan, membaca juga bisa mencegah kepikunan

Bila sudah memasuki dunia kerja, berangkat pagi dan pulang malam, membaca buku adalah hal yang paling menyulitkan sedunia.  Tapi meskipun sulit, membaca adalah salah satu hal yang harus kamu lakukan demi masa depanmu kelak.  Kamu tentu masih ingat nasihat guru SD-mu dulu bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, kamu akan mendapat pengetahuan baru yang selalu kamu perlukan untuk kehidupan.

Selain itu, membaca juga bisa membawa dampak baik untuk kesehatan, yaitu mencegah penyakit alzheimers atau pikun. Kalau memang kamu tidak bisa membaca buku, kamu bisa membaca surat kabar setiap pagi.

5. Berhenti menunda-nunda pekerjaan, karena apa yang kamu dapat di depan sana bergantung kepada apa yang kamu lakukan sekarang

Menunda-nunda pekerjaan juga salah satu hal yang bisa menghambat kesuksesan. Menunda pekerjaan memang menyenangkan, karena hidupmu akan terasa lebih santai. Tapi kita nggak tahu apa yang terjadi di depan. Kita menunda itu sekarang dengan berbagai alasan. Kalau bisa dikerjakan nanti kenapa harus buru-buru, ya ‘kan?

Tapi kita nggak pernah tahu apakah nanti akan benar datang atau tidak. Kesempatan seringnya nggak datang dua kali, ingat? Toh lebih baik kamu mengerjakan itu sekarang dan bersantai setelahnya. Jadi mulai sekarang, ganti prinsipmu menjadi:

Kalau bisa dikerjakan sekarang, kenapa harus nanti-nanti?

6. Selalu takut mengambil risiko nggak akan membawamu ke mana-mana, padahal dunia ini demikian luasnya. Beranilah mencoba!

Apa yang membedakan kenapa satu orang bisa sukses sementara yang lain tidak, bisa dipengaruhi oleh keberanian untuk mengambil risiko. Seseorang yang takut mengambil risiko dan terus bertahan di zona nyaman, selamanya hanya akan berada di posisi yang sama. Tidak naik dan tidak turun. Padahal dunia ini sedemikian luasnya, dan banyak hal menarik yang bisa kamu coba. Kamu takut akan gagal? Tapi bagaimana kamu tahu kamu akan gagal bila kamu terlalu takut bahkan untuk mencoba? Selagi masih muda, akrabilah kegagalan. Karena tanpa kegagalan, kamu tidak akan pernah belajar bukan?

7. Tentukan prinsipmu dan jadikan itu pedoman sehari-hari. Tanpa prinsip yang pasti, hidupmu akan kacau dan tak terarah

Untuk mencapai golmu di masa mendatang, kamu perlu seperangkat prinsip yang kamu jadikan pedoman hidup sehari-hari. Prinsip-prinsip pribadi ini akan menjadi pemandumu dalam setiap langkah yang kamu ambil, untuk membedakan mana yang harus kamu lakukan dan tidak boleh kamu lakukan. Tidak harus mengikuti apa yang orang lain percayai, tapi tentukan sendiri prinsip-prinsipmu karena setiap orang pasti memiliki perbedaan visi dan misi. Tanpa prinsip-prinsip pribadi, hidupmu sulit terarah. Kamu akan mudah terpengaruh oleh orang lain, dan demikian life goal-mu juga sulit untuk dikejar.

8. Biasakan membuat schedule-mu sendiri, dan berusahalah mati-matian untuk menepatinya!

Terkadang musuh yang paling sulit dilawan adalah diri sendiri. Itu juga yang membuat rencana yang sudah kamu susun untuk dirimu sendiri, buyar begitu saja tanpa pernah kamu lakukan karena ini dan itu. Self-dicipline jadi mutlak perlu. Buatlah jadwal untuk dirimu sendiri. Buatlah deadline untuk kamu patuhi sendiri. Tapi jangan hanya sekadar membuat saja lalu dengan tanpa beban mengingkarinya dengan segudang alasan yang kamu buat sendiri. Siksa dirimu untuk mematuhi jadwal yang kamu buat sendiri, agar kelak 5 tahun lagi, kamu sudah terbiasa hidup disiplin bukan untuk mematuhi aturan, tapi untuk dirimu sendiri.

9. Mulai menabung dan berinvestasi. Agar kamu nggak hanya mengandalkan gaji seumur hidupmu nanti

Masa muda adalah masa yang tepat untuk membuat perencanaan keuangan yang matang. Kenapa? Toh duitnya masih untuk diri sendiri ini? Justru karena itulah kamu harus mulai mengatur keuanganmu, karena bila nanti kamu sudah berkeluarga, mengatur keuangan akan jauh lebih sulit. Selagi kamu masih muda, mumpung kebutuhannya belum seberapa, jangan dulu berfoya-foya. Mulai menabung sedikit demi sedikit dan cobalah melirik peluang investasi. Karena gajimu saat ini belum tentu bisa menjamin hidupmu sampai sepuluh tahun lagi.

Kesuksesan nggak pernah jatuh dari langit. Orang-orang yang kamu lihat sukses sekarang, barangkali sudah memulai perjuangannya sejak lima sampai sepuluh tahun yang lalu. Nah, biar dirimu sepuluh tahun lagi nggak menyesal, pertama-tama, yuk melakukan kebiasaan-kebiasaan sederhana di atas!

Kembali ke reportase. Akhir-akhir ini jumlah Spartan yang hadir di turnamen mingguan Sparta hampir selalu sama, yaitu sekitar 14 orang. Demikian juga turnamen mingguan Sparta edisi minggu ke-26 ini, diikuti oleh 14 orang Spartan. Sebenarnya jumlah segini sangat menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semoga Spartan kembali semangat mengikuti turnamen mingguan. Dan datangnya tidak bergiliran. Yang ini hadir yang lain hilang, karena kalo serentak datang semua pasti akan makin seru.

Juara kali ini Hadi M dan Alex muncul sebagai kuda hitam. Karena 2 unggulan teratas (Iyan dan Nura Audy + Fatoni dan Ari A) harus puas di posisi runner up dan semifinalis. Hadi M dan Alex sukses melibas lawan-lawannya tanpa ampun, mulai dari babak penyisihan hingga final.  Dibabak final saat melawan pasangan Iyan dan Nura Audy, Hadi M dan Alex menang dengan score telah 42-28.

Mungkin karena faktor kelelahan, pasangan Iyan dan Nura Audy gagal mengimbangi permainan lawan. Faktor kelelahan ini sangat mungkin terjadi, karena mereka harus bertanding lebih banyak dibandingkan dengan Hadi M dan Alex, karena mereka berada di grup yang dihuni oleh 4 pasang Spartan. Kelelahan bisa mengakibatkan; hilang fokus, gerakan melambat, akurasi pukulan memburuk, mood menurun dll.

Meskipun hanya menjadi runner up, Namun Nura Audy berhasil merebut kembali posisi ranking pertama Sparta, yang sebelumnya dipegang oleh Roganda selama beberapa minggu.

Inilah nama-nama juara kita minggu ini;

Juara 1 Hadi M dan Alex

Juara 2 Iyan dan Nura Audy

Juara 3 Fatoni dan Ari A / Rizaldi dan Regan

Dan dibawah ini adalah result selengkapnya dari turnamen mingguan Sparta edisi minggu ke-26;

Road to final

Bagan turnamen

Update ranking Sparta

Akumulasi perolehan medali Sparta


Sekian reportase kita kali ini, sampai berjumpa lagi di reportase-reportase selanjutnya. Adios, Amigos, Parantos :) See you next week!!!




Minggu, 30 Agustus 2020

Reportase Turnamen Mingguan Sparta, 30 Agustus 2020

 “Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning.” 

 Albert Einstein

Apa yang kita lakukan hari ini, akan menjadi masa depan kita. Bila kita ingin menata masa depan, maka mulailah menata hidup kita hari ini; Karena hari esok belum tentu menjadi milik kita.

Kalimat diatas tentunya tidak dalam konteks menggiring orang untuk berpikiran pesimis, seolah-olah besok dunia akan kiamat. Maksudnya justru menjadi suatu bahan yang patut direnungkan. Siapa diantara kita yang berani memastikan bahwa hari esok akan jadi milik kita? Saya yakin, tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat memastikannya.

Menyadari hal ini, justru akan memberikan pencerahan kepada kita, bahwa setiap kali kita bangun di pagi hari, adalah karunia yang patut disyukuri. Mengawali hari dengan penuh rasa syukur, akan memberikan dampak yang sangat positif bagi diri kita. Memberikan kita kedamaian hati dan keceriaan. Adakah suatu kegembiraan yang lebih besar didalam hidup ini, dari pada kenyataaan bahwa kita masih hidup? Biarlah kita menjawab didalam hati masing-masing.

Falsafah hidup adalah pondasi untuk membangun masa depan

Yesterday is a history, today is a gift and to-morrow is a mystery.

Hari yang telah berlalu adalah sejarah bagi diri kita. Hari ini adalah karunia hidup, sedangkan hari esok masih merupakan misteri. Maka bila kita ingin menata hidup untuk masa depan, mulailah dengan menata hidup hari ini. Karena apa yang kita lakukan pada hari ini, akan menjadi masa depan kita.

Hal yang kelihatan sepele ini, ternyata mampu memberikan perubahan perubahan besar, baik dalam pola berpikir kita,maupun dalam perilaku kita. Karena setiap hari, kita mengingatkan diri sendiri, bahwa ketika matahari terbit, bukan hanya pertanda bahwa pagi sudah tiba, tetapi terlebih pertanda bahwa kita masih hidup.

Jadilah Pemeran Terbaik

Setiap orang berhak menentukan makna atau arti kehidupan bagi dirinya antara lain:

Hidup adalah sebuah perjuangan- maka jadilah pemenang dalam perjuangan ini

Hidup adalah sebuah ujian- maka pastikanlah agar diri kita lulus

Hidup adalah sebuah karunia- maka syukurilah hidup itu

Hidup adalah untuk berbagi- maka jadikanlah hidup kita bermanfaat

Hidup adalah proses pembelajaran diri- maka jangan pernah berhenti belajar

Daftar ini tentunya bisa diperpanjang sesuai dengan pilihan hidup kita masing masing. Setidaknya kita sudah mendapatkan sebuah gambaran, untuk senantiasa memaknai hidup secara arif dan bijaksana.

Konsisten dan Persistensi

Dalam menata hidup untuk meraih masa depan yang ceria, tidak luput dari kemantapan kita menjalaninya secara konsisten dan persistensi.

Konsistensi adalah ketetapan atau kemantapan hati, untuk mengerjakan apa yang telah diputuskan atau menjadi pilihan hidup. Persistensi atau kegigihan berarti tetap teguh pada pendirian. Dengan landasan persistensi orang yang ingin meraih impiannya, akan fokus pada apa yang menjadi kewajibannya. Karena merasa bahwa pekerjaannya adalah sesuatu yang menggairahkan.

Persistensi atau kegigihan merupakan semangat yang bernyala untuk meraih kesuksesan sesuai dengan cita-cita. Hal ini akan mampu menjadi perisai diri, terhadap faktor-faktor eksternal yang berusaha menggerogoti hasrat hati dan sekaligus menjadi motivasi diri untuk terus berbenah diri. Kondisi inilah yang hendaknya dipertahankan, demi untuk terwujudnya cita cita hidup kita. Setiap orang ingin memiliki impian, namun hanya sedikit sekali orang yang percaya dan yakin, bahwa impiannya akan menjadi sebuah kenyataan. Inilah yang membedakan antara orang orang yang sukses meraih cita-cita hidupnya dengan orang orang yang hanya senang bermimpi, namun tidak secara sungguh-sungguh berhasrat untuk meraihnya.

Termasuk kelompok manakah kita? Jangan tanya pada rumput yang bergoyang, karena disana tidak akan ada jawabannya. Ask your heart, because the answer is in your heart. Mari kita tanya hati masing-masing, karena disana pasti akan ada jawabannya.

Kembali ke reportase. Turnamen mingguan Sparta edisi minggu ke-25, diikuti oleh 14 orang Spartan. Bulan Agustus ditutup oleh Christian dan Rama sebagai juara. Di babak final mereka berhasil menenggelamkan pasangan Roganda dan Hadi M dengan 42-35. Kedua pasangan ini sudah terprediksi akan bertemu di final. Mereka sama-sama melangkah mulus di babak penyisihan dan semifinal. 

Hari ini Para juara mendapat hadiah uang tunai Rp 100.000,- untuk juara dan Rp 50.000,- untuk runner up dari sponsor, Nura Audy.

Inilah nama-nama Juara minggu ini;

Juara 1 Christian dan Rama

Juara 2 Roganda dan Hadi M

Juara 3 Alex dan Fatoni / Nura Audy dan Nugorho

Dan dibawah ini adalah catatan lengkap dari result turnamen mingguan Sparta kali ini;

Road to final


Bagan turnamen

Update ranking Sparta

Akumulasi perolehan medali Sparta


Selepas mabar, seperti biasanya dilengkapi dengan makan bareng. Kali ini para Spartan memutuskan makannya di Geprek Pangeran. Yang ikut makan ada 11 orang (Peter, Andre, Nura Audy, Fatoni, Hadi M, Roganda, Olsen, Dian, Iyan, Nugroho. Sambil makan kita ngobrol santai sambil membahas tentang rencana menggelar Turnamen Sparta Open 2020.
Selesai makan atas inisiatif Dian, kita rencananya lanjut Karaoke di NAV MIM. Tapi sayang setelah sampe di TKP, ternyata Karaokenya dalam kondisi terkunci alias tutup. Acara karaoke bareng pun gagal.

Sekian reportase kita kali ini. Tetap semangat dan selalu jaga kekompakkan. Salam olahraga!!



Minggu, 23 Agustus 2020

Reportase Turnamen Sparta Merah Putih Cup, 23 Agustus 2020

 "True freedom is not the liberty to do anything we please, but the liberty to do what we ought; and it is genuine liberty because doing what we ought now pleases us".

D. A. Carson

Selama ini kita mendambakan kebebasan, mengagung-agungkan kebebasan, dan mendewakan kata “bebas”. Begitupula berbagai instrumen hukum bernama Hak Asasi Manusia lengkap dengan berbagai konvensi hukum internasional yang mengusung tema “kebebasan absolut”. Namun, yang menjadi masalah, apa yang menjadi definisi kita tentang “kebebasan” itu sendiri? Menyatukan persepsi adalah hal yang terpenting, agar “kebebasan” tidak menjelma “ketidak-mampuan untuk mengendalikan diri sendiri”, atau bahkan “kebebasan yang merenggut kebebasan individu pribadi lainnya”.

Antara bebas “sebebas-bebasnya”, dan terpenjara “seketat-ketatnya”, meski tampak berbeda dan saling bertolak-belakang, namun ternyata memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama bersifat ekstrim pada masing-masing sudut kubunya sendiri. Pribadi yang mengagungkan kebebasan tanpa terkontrol, cenderung menjadi “budak” dari nafsu ego-nya sendiri, alias terpenjara oleh kebodohan batinnya sendiri. Seseorang yang hidup bebas, cenderung tidak disiplin, tidak terkontrol, tidak mengindahkan hukum, bahkan juga tidak perduli terhadap norma sosial—karena tidak lagi memiliki rasa takut maupun rasa malu untuk melanggar.

Kita bebas memilih, namun disaat bersamaan kita terjebak dan terpenjara oleh obsesi kita untuk bebas memilih. Mungkin itulah yang sering diistilahkan sebagai nilai “antinomi”—suatu wujud yang sejatinya berwajah ganda, bagaikan dua sisi yang saling bertolak-belakang pada satu koin logam yang sama.

Ilmu filsafat menyebutkan: Ada siang, maka ada malam. Ada yang ada, maka ada yang tiada. Maka, tiada yang istimewa dari suatu “eksistensi di dunia ini”, semata sebagai konsekuensi logis dari yang “tiada eksis di dunia ini”. Karena ada yang buruk, maka ada yang disebut sebagai cantik. Mereka yang cantik, harus berterimakasih dan berhutang budi pada mereka yang buruk rupa sehingga yang cantik dapat eksis.

Ilustrasi sederhana lewat pengungkapan kisah, tampaknya dapat memudahkan pemahaman kita, untuk itu penulis mengutip kisah dari seorang Bhikkhu bernama Ajahn Brahm, dalam bukunya Opening the Door of Your Heart (Judul versi Bahasa Indonesia: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya), Penerjemah : Chuang, Awareness Publication, 2009, Jakarta, dengan kutipan inspiratifnya sebagai berikut:

DUA JENIS KEBEBASAN

“Ada dua jenis kebebasan yang dapat kita temukan di dalam dunia kita: kebebasan untuk berkeinginan (freedom of desires) dan kebebasan dari berkeinginan (freedom from desires).

“Kebudayaan modern Barat kita hanya mengenal jenis yang pertama saja, kebebasan untuk berkeinginan. Kita memujanya sebagai sebuah kebebasan dengan mengabadikannya di pembukaan undang-undang nasional dan piagam hak-hak asasi manusia.

“Dapat dikatakan bahwa paham yang mendasari kebanyakan sistem demokrasi Barat adalah untuk melindungi kebebasan rakyat untuk mewujudkan hasratnya, sejauh mungkin. Anehnya, di negeri-negeri seperti itu, orang-orangnya tidak merasa benar-benar bebas.

“Kebebasan jenis kedua, kebebasan dari berkeinginan, hanya dikenal dalam beberapa komunitas religius. Mereka menjunjung rasa keberkecukupan, kedamaian yang bebas dari berkeinginan. Anehnya, dalam komunitas yang penuh aturan disiplin seperti di Wihara saya, orang-orangnya justru merasa benar-benar bebas.

DUNIA BEBAS

“Selama beberapa minggu , seorang rekan biksu mengajar meditasi di sebuah penjara baru dengan tingkat pengamanan yang sangat ketat di dekat Perth. Sekelompok kecil narapidana telah mengenal baik dan menghormati sang biksu. Pada akhir sebuah sesi, mereka mulai bertanya mengenai rutinitas keseharian sang biksu di Wihara.

“’Kami harus bangun pada pukul 4 pagi setiap hari,’ katanya. ‘Kadang-kadang terasa sangat dingin karena kamar kami yang kecil tidak memiliki penghangat ruangan. Kami hanya makan sekali sehari, semuanya dicampur-aduk dalam satu mangkuk. Selewat tengah hari dan pada malam hari, kami tidak makan apa pun. Dan tentu saja, tidak boleh berhubungan seksuil atau minum minuman beralkohol. Kami tidak punya televisi, radio, ataupun alat musik. Kami tidak pernah nonton film, juga tidak berolahraga untuk kesenangan. Kami berbicara sedikit, bekerja keras, dan melewatkan waktu luang dengan duduk bersila mengamati napas. Kami tidur di atas lantai.’

“Para napi tertegun mengetahui minimnya kehidupan membiara kami. Kalau diperbandingkan, itu membuat penjara mereka seperti sebuah hotel bintang lima. Bahkan, seorang napi begitu tergerak simpatinya atas merananya si biksu sahabatnya ini, sampai dia lupa di mana dia berada dan berkata, ‘Ngeri amat tinggal di Wihara-mu. Kenapa kamu tidak pindah ke sini dan tinggal bersama kami saja?’

“Si biksu bercerita kepada saya, bahwa semua orang di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Begitu pula saya ketika dia menceritakan kejadian itu. Lalu saya mulai merenunginya dengan mendalam.

“Memang benar Wihara saya jauh lebih sederhana daripada penjara terketat untuk para terpidana, namun banyak yang datang dengan kemauan sendiri, dan bahagia di sini. Sementara, begitu banyak orang yang mencoba kabur dari penjara yang lebih nyaman, dan tidak bahagia di sana. Mengapa?

“Itu karena, di Wihara saya, penghuninya ingin berada di sana. Di penjara, penghuninya tidak ingin berada di sana, itulah bedanya.

“Saat Anda tidak ingin berada di suatu tempat, di mana pun itu, senyaman apa pun, itu adalah sebuah penjara bagi Anda. Inilah arti sesungguhnya dari kata ‘penjara’—situasi apa pun di mana Anda tidak ingin berada. Jika Anda ada dalam pekerjaan yang tidak Anda inginkan, berarti Anda berada dalam penjara. Jika Anda ada dalam sebuah hubungan yang tidak Anda inginkan, Anda berada dalam penjara. Jika Anda sedang sakit dan terperangkap di dalam tubuh menyakitkan yang tidak Anda inginkan, itu pun penjara buat Anda. Penjara adalah situasi apa pun di mana Anda tidak ingin berada di dalamnya.

“Lantas, bagaimana caranya untuk dapat bebas dari berbagai penjara kehidupan? Gampang. Ubah saja persepsi Anda tentang situasi sekarang menjadi ‘ingin berada di sana’. Walaupun berada si San Quentin (Redaksi: nama penjara tempat hukuman mati di California), atau yang sedikit lebih lumayan—Wihara saya, kalau Anda ingin berada di sana, maka itu tidak lagi menjadi penjara bagi Anda. Dengan mengubah persepsi Anda terhadap pekerjaan, relasi, tubuh yang sakit, dan dengan menerima situasinya alih-alih menolaknya, maka itu tidak lagi terasa seperti sebuah penjara. Saat Anda menerima untuk berada di sana, Anda telah bebas.

“Kebebasan adalah merasa puas di mana pun Anda berada. Penjara berarti menginginkan berada di tempat lain. Dunia bebas adalah dunia yang dialami orang seseorang yang puas. Kebebasan sejati adalah kebebasan dari berkeinginan, bukannya kebebasan untuk berkeinginan.

Tersandera oleh keinginan, terpenjara oleh ketidak-puasan, tersiksa oleh obsesi yang tiada habisnya, terbudaki oleh ambisi yang egoistik, semua itu merupakan manifes dari impian untuk hidup bebas tanpa kendali diri. Kebebasan bukan selalu bermakna tidak mencengkeram atau tiada menggenggam sesuatu, namun bisa jadi kebebasan dalam wujud konkretnya dijewantahkan lewat suatu sikap yang mencengkeram erat suatu hasrat yang tidak terbendung bahkan oleh dirinya sendiri. Ironisnya, tersandera atau tidak bebas, juga memiliki makna yang sama persis dengan makna kebebasan—itulah polemik ambigunya.

Ketika kita mendapati seseorang menyerukan slogan perihal “kebebasan”, maka perlu kita klarifikasi terlebih dahulu kepada yang bersangkutan, bahwa kebebasan yang dikehendakinya ialah “bebas dari apakah”? Sudah saatnya kita memaknai frasa “bebas” sebagai “kesediaan untuk menerima kondisi secara apa adanya”.

Menyemai kata “bebas”, sama artinya kita harus mau terikat oleh sebentuk komitmen dan tanggung jawab, tidak bisa tidak. Untuk bisa terbebas, kita harus mau terikat oleh berbagai disiplin diri. Hidup bebas tanpa diimbangi sebentuk pola hidup bertanggung jawab, sejatinya tengah melemahkan kebebasan hidup dirinya sendiri. kita bebas untuk menggenggam objek yang kita pilih, namun kita tetap hanya sebatas memiliki dua tangan untuk memegang benda di waktu yang bersamaan.

Kembali ke reportase. Dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI,  digelar Turnamen Sparta Merah Putih Cup 2020 yang diikuti oleh 25 orang Spartan. Sebenarnya yang daftar ada 26 orang, tapi secara sepihak dan mendadak Pak Achmad membatalkan keikutsertaannya, padahal drawing sudah selesai dan turnamen sudah dimulai. Sebagai konsekuensinya; next time, khusus buat yang pernah membatalkan keikutsertaannya setelah proses drawing selesai, seperti Pak Achmad; Maka untuk turnamen-turnamen selanjutnya WAJIB hadir sebelum proses drawing. Jika tidak hadir, maka konfirmasinya diabaikan. 

Begitu juga, buat yang ada masalah dengan keluarga, teman atau pasangannya: jangan dibawa-bawa ke GOR. Apalagi orang ketiga tersebut sangat menghambat jalannya turnamen. Karena banyak waktu terbuang dalam pelaksanaan turnamen, dan dengan walkover sangat mengacaukan hasil turnamen, yang tentu saja merugikan partnernya dan teman-teman di Sparta. Membingungkan pula buat penghitungan poin.

Seperti perkiraan admin, terjadi partai final ideal dengan mempertemuan antara Abraham dan Selmi VS Christian dan Anton. Turnamen kali ini peraih medali didominasi oleh wajah-wajah baru, seperti; Selmi, Christian, Deris, dan Adi Putra (yang baru comeback).


Flyer turnamen Sparta Merah Putih Cup 2020

Medali Sparta Merah Putih Cup 2020

Boneka souvenir Sparta Merah Putih Cup 2020

Pin merchandise Sparta

Penampilan Abraham dan Selmi tak terbendung oleh lawan-lawannya mulai babak penyisihan hingga partai puncak. Mereka tampil apik tanpa kehilangan satu kemenangan pun.

Inilah nama-nama juara Turnamen Sparta Merah Putih Cup 2020;

Juara 1 Abraham dan Selmi

Juara 2 Christian dan Anton

Juara 3 Andre dan Rama / Deris dan Adi Putra

Juara 1 Abraham dan Selmi

Juara 2 Christian dan Anton

Juara 3 Rama dan Andre

Juara 3 Adi Putra dan Deris


Turnamen Sparta Merah Putih Cup 2020 adalah salah satu turnamen internal spesial di Sparta, jadi poin yang diperebutkan pun sedikit berbeda dengan turnamen mingguan. Dimana kali ini mengacu pada poin SSP (super series preimer). Dengan rincian sebagai berikut;  

Juara 1 = 11.000 poin

Runner Up = 9.350 poin

Semifinalis  = 7.700 poin

Quarter final = 6.050 poin

Round 1 = 4.320 poin


Inilah result selengkapnya Turnamen Sparta Merah Putih Cup 2020;

Road to final

Bagan turnamen

Update ranking Sparta

Akumulasi perolehan medali Sparta

Sekian reportase kita kali ini.Sampai jumpa lagi di reportase-reportase berikutnya. Salam olahraga!!!